Arif Rachmat, CEO PT Triputra Agro Persada yang Peduli Ketahanan Pangan dan Perekonomian Indonesia

Indonesia sebagai salah satu Negara berkembang saat ini mengalami peningkatan produksi beras yang mencapai 14 persen dari tahun 2014 ke tahun 2017. Hingga saat ini indeks ketahanan pangan Indonesia berada di posisi 69 pada tahun 2017 dengan laju yang cenderung stabil. Namun sayangnya swasembada beras bukanlah satu satunya solusi ketahanan pangan di tanah air. Hal ini disampaikan oleh Pelapor Khusus untuk Hak Atas Pangan Dewan HAM PBB, Hilal Elver. Hilal mengatakan tidak semua masyarakat di seluruh wilayah Indonesia mengandalkan beras sebagai makanan pokoknya.

Namun CEO PT Triputra Agro Persada yang kini dijabat oleh Arif Rachmat punya pandangan tersendiri terkait ketahanan pangan. Menurut Arif Rachmat teknologi pertanian atau agro digital dimana beras dan jagung menjadi komoditas utama bisa dikembangkan. Hal ini tentunya cukup berbeda dengan pandangan-pandangan konvensional yang hanya mengukur ketahanan pangan berdasarkan kuantitatif dan kualitatif bukan dari sisi pengembangan pengelolaannya.

Meskipun disebut sebut pengembangan teknologi pangan terbilang tidak mudah, namun menurut Arif Rachmat, bisnis ini cukup menjanjikan kedepannya karena belum banyak yang bermain. Hal ini dikarenakan biaya pengembangan teknologi pangan serta pengelolaannya terbilang cukup besar. Poin pertama yang menjadi kendala yakni dari sisi hardware dimana gadget yang digunakan petani saat ini belum terlalu banyak dan belum dikuasai. Selain hardware, tentunya sisi mentoring atau pendampingan yang butuh banyak ekspertis untuk mendampingi petani-petani menjadi kelompok tani.

Perekonomian sejatinya tak akan lepas dari pengembangan sektor-sektor di dalamnya. Baik dari sisi kualitas, kuantitas, infrastruktur hingga regulasi dari pemerintah. Belakangan banyak bermunculan start up digital yang sukses lantaran mampu mempermudah ruang gerak masyarakat. Namun tentunya perlu pendalaman mengenai demografi masyarakat serta riset dan  pengembangan ke arah literasi teknologi. Agar masyarakat yang disuguhkan dengan kemudahan tersebut mampu mengoptimalkan penggunaan perangkat yang terdigitalisasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *