Bisnis Sawit Triputra Dimulai dari Nol

Pada tahun 2015, Triputra Group menyiapkan investasi sebesar US$ 300 juta (Rp 3,77 triliun) untuk melakukan ekspansi usaha. Seperti dikutip dari Investor Daily, fokus pengembangan usaha yang didirikan oleh pengusaha Teddy P. Rachmat ini adalah di sektor agribisnis dan logistik. Sektor agribisnis yang menjadi bidikan utama Triputra adalah sawit. Dari keseluruhan investasi alokasi untuk komoditas sawit mencapai US$ 200 juta.

Meski saat itu harga komoditasnya tengah anjlok, Triputra tetap akan fokus pada pengembangan agribisnis. Pihak perusahaan mengatakan, sektor agribisnis masih cukup menjanjikan karena merupakan kebutuhan yang tidak habis dan perusahaan ini memiliki target untuk jangka panjang.

CEO PT Triputra Agro Persada Group, Arif Rachmat pun menuturkan bagaimana awal perusahaannya berdiri pada Berita Satu.

“Jadi, kami memulai dari nol. Kami merayakan ulang tahun ke-10 perusahaan ini baru pada 1 April 2015,” terang Arif. “Perusahaan saat ini memiliki lahan lebih dari 160.000 hektar (ha). TAP pertama kali didirikan dengan nama PT Alam Permata Indah. Dahulu karyawannya cuma lima orang, termasuk sekretaris, sekarang sudah 25.000 orang,” lanjutnya.

Arif juga menuturkan bagaimana sebagian besar karyawan PT Triputra Agro Persada merupakan masyarakat lapisan bawah. Para pemanen dan perawat perusahaan juga sebagian besar berasal dari Kalimantan dan Sumatera. Benar-benar dimulai dari bawah, saat ini bisnis CPO yang dinahkodainya menjadi salah satu tulang punggung Grup Triputra dan profit paling besar berasal dari sektor perkebunan.

Bisnis Triputra Group di sektor agribisnis dilakukan melalui 2 anak usahanya, yaitu PT Kirana Megatara dan PT Triputra Agro Persada. Kirana Megatara saat ini merupakan produsen karet remah (crumb rubber) terbesar di Indonesia, dengan kapasitas produksi tahunan sebesar 640.000 ton.

Perjalanan merintis Triputra tidaklah mudah. Theodore Permadi Rachmat, ayah Arif bahkan merintis perusahaan tersebut saat krisis keuangan pada 1998 memuncak hingga akhirnya memutuskan untuk menjual perusahaan pembiayaan ke salah satu bank. Dana tersebut kemudian digunakan untuk investasi di pertambangan hingga akhirnya ia sukses membangun Triputra Group.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *