Ini Strategi PT Triputra Agro Persada Tingkatkan Yield Tahun Ini

PT Triputra Agro Persada tercatat menghasilkan keuntungan di tahun 2017 yang melampaui target. Awal tahun 2018 menjadi momen penting bagi PT Triputra Agro Persada (TAP) untuk menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya sesuai dengan target perusahaan yang telah ditentukan.

TAP sendiri merupakan perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit dan perkebunan karet berskala nasional. Hingga saat ini TAP telah menjalankan replanting atau penanaman kembali untuk mendongkrak produktivitas tanaman. Usia tanaman kelapa sawit hingga menghasilkan Tandan Buah Segar (TBS) membutuhkan waktu 3 tahun hingga masa produktif tanaman. Selain itu, TAP juga telah membangun infrastruktur di provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah untuk mengembangkan SDM perusahaan.

Selain infrastruktur, TAP juga memberikan pelatihan bagi karyawan-karyawan untuk menyiapkan Desa Makmur Peduli Api. Desa ini dibentuk untuk mengantisipasi adanya kebakaran hutan dan lahan seperti yang sering terjadi sebelumnya. Arif Rachmat selaku CEO TAP pun menyampaikan kerja sama yang dilakukan antara TAP dengan Kementrian Pertanian dan Kementrian Lingkungan Hidup. “Kami berikan pelatihan agar rakyat tidak melakukan pembakaran saat membuka lahan,” ujarnya.

Arif pun menambahkan bahwa hingga tahun 2018, kelapa sawit menjadi Top 10 basis devisa bagi Indonesia. “Jadi kalau di kami TAP, Key Performance Index memiliki tiga indikator yaitu yield, cost dan sustainability. Sehingga sustainability TAP antara lain safety, enviromental, comodity, dan social,” ungkapnya.

Perusahaan berusaha meningkatkan keuntungan yang tinggi sehingga biaya operasional menjadi lebih rendah nilainya jika dibandingkan lurus. TAP juga menerapkan mekanisasi konsumsi bahan bakar solar untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas SDM yang dapat meningkatkan intensifikasi lahan sehingga dapat meningkatkan produksi.

Digitalisasi perkebunan pun telah diterapkan oleh TAP dengan melakukan pendeteksi buah sawit untuk menghindari kerugian. Digtitalisasi perkebunan tersebut menggunakan sophisticated censors camera, drone, smartphone, dan barcoding system.  TAP juga melakukan intensifikasi di lahan-lahan petani swadaya dengan cara pendampingan, akses modal, bibit, dan sebagainya.

“Mulai tahun 2018, kami akan fokus juga menggandeng petani-petani kelapa sawit dan karet swadaya. Tujuannya untuk diintensfikasi kebun dengan cara pendampingan dan membuka akses ke pembiayaan dengan kelapa sawit sebagai penjamin supaya mendapatkan akses modal dari bank,” jelasnya.

Arif berharap kondisi politik di Indonesia di masa depan aman sehingga bisnis kelapa sawit dapat lancar, hal ini mengingat ranking Indonesia sebagai Negara tujuan investasi naik. TAP pun mencatatkan pertumbuhan perusahaan tumbuh seiring perekonomian nasional yang meningkat, yakni 5%.

“Paling penting adalah menjaga kondisi dalam negeri untuk tetap kondusif sepanjang tahun politik nanti. Jika stabil akan banyak investor yang akan melakukan investasi. Targetnya, di 2018 kenaikan yield sekitar 20% (YoY). Kami berharap 2-3 tahun ke depan bisnis sawit masih tinggi,” ungkapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *