Kisah Miris Sawit Pada Masa Kolonial

Minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) merupakan salah satu penghasil devisa tertinggi Indonesia. Tercatat, pendapatan devisa untuk Indonesia dari sektor sawit mencapai 300 triliun. Siapa sangka, perkembangan tumbuhan asal Afrika Barat yang memiliki nama asli Elaeis guineensis ini menyimpan kisah unik.

Valid News mencatat, sawit pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh pemerintah Belanda pada tahun 1848 dengan membawa 4 batang bibit kelapa sawit dari (Bourbon) Mauritius dan Amsterdam (Belanda). Sawit kemudian ditanam di Kebun Raya Bogor dan bertujuan sebagai tanaman hias langka, sementara sisa benih-benih lain ditanam di tepi-tepi jalan sebagai tanaman hias di Deli (Sumatera Utara) pada tahun 1870-an.

Revolusi industri yang terjadi pada pertengahan abad ke-19 kemudian mendorong perkembangan industri CPO di Indonesia. Ketika itu, permintaan minyak nabati mengalami peningkatan. Perkebunan kelapa sawit di Indonesia yang saat itu masih dalam pendudukan Belanda maju pesat. Bahkan hingga menggeser dominasi ekspor negara Afrika.

Pada masa kolonial, produksi sawit Indonesia pun pernah mengalami keterpurukan. Pada masa pendudukan Jepang, perkembangan usaha perkebunan kelapa sawit pun mengalami penyusutan sebesar 16% dari total luas lahan yang ada. Pada tahun 1940, Indonesia sempat mengekspor 250.000 ton minyak sawit. Namun pada tahun 1948, produksi minyak sawit di Indonesia hanya mencapai 56.000 ton saja.

Di tahun 1957, pemerintah mengambil alih perkebunan yang ditinggalkan oleh para penjajah. Dengan alasan politik dan keamanan, militer mengambil alih pengelolaan di setiap jenjang manejemen perkebunan dengan maksud untuk memastikan amannya produksi minyak sawit.

Kala itu pemerintah juga membentuk kerja sama antara buruh perkebunan dan militer yang diberi nama BUMIL (Buruh Militer). Namun sayang, perubahan manajemen dalam perkebunan ini dan terakumulasi dengan kondisi sosial politik juga keamanan dalam negeri yang tidak kondusif, mengakibatkan produksi kelapa sawit menurun. Posisi Indonesia sebagai pemasok minyak sawit dunia terbesar pun pada akhirnya tergeser oleh Malaysia.

Perkembangan sawit di Indonesia inilah yang membuat CEO PT Triputra Agro Persada Group, Arif Rachmat memilih untuk mulai bergelut di indsutri ini pada tahun 2005, setelah menuntut ilmu dan bekerja di Amerika Serikat selama sekira 15 tahun lamanya.

Untuk menjadi salah satu produsen terbesar sawit pun tidak mudah. Kerja kerasnya dan penguasaha Teddy P. Rachmat yang tidak lain adalah sang ayah sempat mengalami jatuh-bangun.

“Kami beli lahan, ternyata peruntukan lahannya bukan untuk sawit. Mungkin jatuh bangunnya di situ,” tutur Arif.

Namun kini usaha Arif telah membuahkan hasil yang baik. Pada tahun 2017, pengusaha sawit ini kemudian terpilih sebagai salah satu CEO peraih penghargaan Indonesia Most Admired CEO atas kelihaiannya dalam memimpin perusahaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *