Sawit Indonesia Berjaya Sejak Jaman Kolonial Belanda

Indonesia adalah produsen dan eksportir minyak sawit atau crude palm oil (CPO) terbesar di dunia. Salah satu penyumbangya ialah perusahaan kelapa sawit PT Triputra Agro Persada di bawah kendali nahkoda Arif Rachmat sebagai CEO.

Bersama dengan negara tetangga, Malaysia, Indonesia mendominasi produksi minyak sawit dunia. Dilansir dari Indonesia Investments, kedua negara ini secara total menghasilkan sekitar 85-90% dari total produksi minyak sawit dunia. Menurut data yang didapat Indonesia Investments, pada tahun 2016 Indonesia mampu menghasilkan 36.000.000 ton metrik sementara Malaysia menghasilkan 21.000.000 ton metrik.

Permintaan dunia akan minyak sawit menunjukkan kecenderungan meningkat dalam jangka panjang. Hal ini terjadi seiring dengan jumlah populasi dunia yang bertumbuh. Oleh karena itu konsumsi produk-produk dengan bahan baku minyak sawit seperti produk makanan dan kosmetik pun meningkat. Selain itu, pemerintah di berbagai negara kini tengah giat mendukung pemakaian biofuel yang dimana CPO menjadi bahan baku dasar dari bahan bakar ramah lingkungan ini.

Hampir 70% perkebunan kelapa sawit terletak di Sumatra, sementara sebagian besar dari sisanya yaitu sekitar 30% berada di pulau Kalimantan. Tempat industri sawit ini telah dimulai sejak masa kolonial Belanda.

Seperti dikutip dari Info Sawit, tanaman monokultur ini ditanam pertama kali di Kebun Raya Bogor pada tahun 1848 pada masa kolonial Belanda. Selanjutnya, sawit mengalami perkembangan pesat secara komersil, sejak penanaman perdana di daerah Deli, Sumatera Utara pada tahun 1904. Lebih dari 100 tahun kemudian, pengembangan perkebunan kelapa sawit secara komersil telah dilakukan di Indonesia.

Salah satu pelaku industri sawit terbesar di Indonesia adalah PT Triputra Agro Mandiri (TAP) Group. CEO TAP Arif Rachmat, telah memulai usaha ini sejak tahun 2005. Untuk menjadi salah satu produsen terbesar sawit pun tidak mudah. Kerja kerasnya dan penguasaha Teddy P. Rachmat yang tidak lain adalah sang ayah sempat mengalami sedikit kendala.

Kendala yang ditemukan Arif pun beragam, mulai dari soal lahan tambang hingga lahan untuk perkebunan sawit yang kurang layak. “Kami beli lahan, ternyata peruntukan lahannya bukan untuk sawit. Mungkin jatuh bangunnya di situ,” tutur Arif.

Namun kini usaha Arif telah membuahkan hasil yang baik. Bukan hanya baik bagi perusahaan yang ia rintis, tapi juga TAP telah memberikan dampak positif bagi lingkungan. Maklum, industri sawit kerap kali dipandang sebagai indsutri yang menyebabkan kerusakan lingkungan.

TAP sendiri giat memberikan perhatian terhadap lingkungan seperti pemanfaatan teknologi dan program rutin untuk mencegah kebakaran lahan dan hutan. TAP juga telah beberapa kali bekerja sama dengan Borneo Orangutan Survival (BOS) untuk pelestarian orangutan di Kalimantan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *